Antara Vina, Memes dan Marissa

Kebetulan saya kenal ketiganya. Wanita-wanita cantik, pandai, dan terkenal itu selalu berkibar namanya di negeri ini.  Dan tidak hanya setahun dua tahun, namun dalam kurun waktu yang cukup lama. Vina, yang nama aslinya panjang banget itu – Vina Dewi Sastaviyana Panduwinata itu kelahiran Bogor 51 tahun silam.  Ia sempat mengenyam pendidikan di Jerman karena ayahnya ditugaskan di sana. Siapa pula menyangka ia akan menjadi penyanyi terkenal yang suaranya padat stabil dan indah itu. Ia menikah dengan teman seangkatan saya di SMA IV Jakarta, Boy Joedho Soembono. Boy si jago basket yang berambut keriting dan bertubuh tegap itu sangat bersahaja, meski ayahnya dulu berada pada posisi tertinggi di Pertamina.  Maka ketika setelah itu ia berjodohkan seorang penyanyi terkenal, teman-teman lamanya heboh. Sempat ada gurauan di tengah kami dulu, bahwa anak laki pendiam dan jarang berkoar-koar ternyata ’sabetannya lebih kenceng’ ketimbang yang tampak luarnya gesit tapi melompong di dalam. Hahahaa…!  Akhirnya saya dan teman-teman kenal Vina sebagai istri teman kami. Kebetulan pula Vito saat kecil dulu bersekolah di Al Azhar Kemang, sama-sama anak saya. Setelah anak saya lulus SD dan pindah sekolah ke SMP Pelita Harapan, Vina masih rajin antar jemput anaknya ke sekolah di kawasan Kemang itu. Kami hampir tiap minggu bertemu di supermarket besar di sebelah sekolah anak-anak. Vina selalu ramah kepada pengunjung supermarket, sampai kepada kasir yang selalu disapanya dengan akrab. Si burun camar ini sempat menjadi burung garuda setelah melahirkan Vito. Lebbbaaaaarrrr…. tetapi dia masa bodoh saja. “Yang penting anakku sehat”, katanya selalu dengan riang.

Memes, yang nama asilnya Meidyana Maimunah kelahiran 6 Mei 1965 ini memang gesit sejak dulu. Saya kenal abangnya, Buyung , yang sama-sama satu sekolah di SMP N I Jakarta Pusat. Sangking keluarga Memes adalah keluarga besar, beberapa kakaknya adalah teman ibu dan tante-tante saya yang lain. Boleh dikata, Memes berjodoh Addie MS memang betul-betul botol bertemu tutupnya. Mereka adalah pasangan yang cantik ganteng, dan musikal sekali.  Addie dengan pianonya, cermatnya sebagai konduktor dan fasih menciptakan berbagai lagu untuk kebutuhan iklan, sinetron dan lain-lain, Memes menyanyi dan cermat sekali memperhatikan perkembangan karir suaminya.  Saya menikmati sekali ketika kami sama-sama di Surabaya dalam acara tur orkestra mereka yang diawali dari Bandung, dan ke Jogja. Sekian malam runtang-runtung dengan lelah tapi seru, Memes baru datang di malam terakhir di Surabaya. Di acara konser dia duduk di samping saya. Teliti sekali dia menyimak suara yang keluar dari segala alat yang telah terpasang. Dia sempat heran mengapa suara melodinya lebih kecil, mengapa kejernihannya kurang dan lain sebagainya. Saat larut malam acara bubar dan kami akan memeriahkan malam terakhir tur, Memes yang baru datang dari Jakarta permisi untuk tidur. Ia biarkan suaminya berkumpul bersama kami, menyanyi, berteriak2 senang karena kerja keras membuahkan hasil. Sang istri tidak menuntut suami harus segera masuk ke kamar.  Santai benar Memes menghadapi sang suami. Saya rasa, itulah bentuk rasa cintanya yang besar kepada Addie, sebuah kepercayaan yang besar yang tidak dihantui oleh kobaran cemburu.

Marissa Haque, si cantik berdarah campuran Pakistan ini memang jelita sejak remaja. Dulu saya beberapa kali mampir ke rumahnya, mengobrol dengan tante Mieke Ibunya, juga ayahnya yang tegap itu. Saya pernah melihat Icha – panggilan Marissa pagi-pagi bangun tidur. Uiih, cantiiiik deh ! Soraya Haque dan Shahnaz dulu belum setenar kakaknya, Icha.  Lama-lama Aya – panggilan untuk Soraya, mulai difoto sebagai foto model di majalah Gadis. Lalu berjalan di karpet merah memperagakan pakaian. Marissa jarang menjadi peragawati di atas panggung. Mungkin karena postur tubuhnya yang kurang tinggi seperti Soraya, maka ia lebih sering menjadi foto model. Begitu banyak iklan berebut ingin menjadikannya model. Kedua putrinya lahir lucu-lucu. Saya datangi saat baru beberapa hari muncul ke bumi. Marissa memang rajin memanggil wartawan untuk  beberapa kegiatan maupun hari-hari yang dianggapnya istimewa.

Ketiganya kini sudah tumbuh menjadi wanita dewasa yang cemerlang. Sampai hari ini. Dan ternyata sampai hari ini, sejak beberapa hari lalu, nama ketiganya disebut banyak orang dalam dunia maya maupun obrolan antar teman.  Marissa, menulis ketidaksenangannya terhadap Vina dan Memes. Saya enggan mengisahkan rinci lagi,  karena sudah banyak yang tahu duduk soalnya. Intinya, ia tak suka bila suaminya, Ikang Fauzi didekati dengan ‘ cara yang kurang wajar di  matanya ‘ .  Orang-orangpun gempar, karena Marissa mengecam dengan pedas. Saya jadi teringat bagaimana keributan yang pernah terjadi di sini, di Rumah Sehat Kompasiana ini.  Yang jelas, gara-gara ini rekan kita berganti nama, Unang Muchtar menjadi UUB. Lho?  Itu adalah singkatan dari Unang Urang Banten…, yang muncul dari tulisan Marissa yang  ( lagi-lagi  ) pedas.  Kami semua tertawa, karena Unang memang UUB.. Unang Urang Bogor…, dan bukan Banten. Selain itu, dengan amat terpaksa pak Admin di sini menutup akun Marissa. Ia pun mengancam, dan akan menyiapkan tuntutan, yang sampai kini tak jelas realisasinya. Gara-gara keributan itu maka saya juga segera menelefon Ikang. Ada beberapa hal yang saya tanyakan sekedar untuk konfirmasi. Ikang yang ramah akhirnya mengobrol soal bisnis rumah yang selalu ia bangun selama ini. Ikang yang santun dan  manis hati…., memang !

Memes maupun Addie MS boleh berkepala dingin. Namun Kevin, remaja yang menuju dewasa hasil tempaan ayah bundanya yang mengedepankan kesantunan, tokh tetap tersinggung. Bisa dimengerti. Lha ibunya dimaki semacam itu kok?  Untungnya, Vina dan Boy juga tutup mulut rapat-rapat. Sudah pasti ia dalam satu dua hari ini diserbu wartawan untuk dimintai tanggapan mereka.  Ya, sebaiknya memang begitu. Vina, Memes, Boy maupun Addie tak perlu menanggapi pertanyaan orang, apalagi menyerang balik orang yang bersangkutan yang  telah menulis panjang lebar itu. Masih banyak pekerjaan yang harus ditempuh, tanggung jawab yang harus disentuh, di tengah kepanikan saudara-saudara kita yang tengah hancur akibat bencana alam.  Dunia begitu indah untuk berceloteh menanggapi omelan yang bagai pisau tajam itu.   Dan Marissa tentu juga super sibuk menjalankan kegiatan rutinnya. Saya masih berjumpa dengannya sekitar dua minggu lalu di Citos. Dan kami saling berpelukan.  Andai saya tahu sebelumnya ia akan menulis serupa itu… tentu saya  akan mencoba ubtuk berkata, “Jangan Icha…, nikmati hidup ini dengan merangkul sebanyak-banyaknya teman, dan ingat lho.. hidup kita seperti ini sekarang tentu setelah melewati sejarah masa lalu yang panjang…., yang tidak akan mungkin kita hapus begitu saja…”

This entry was posted in Intermezzo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *